Kisahku di Aceh, Bagian 1: Menginjakkan Kaki di Bumi Rencong

Posted on April 10, 2011

0


Ini adalah ceritaku saat aku bekerja di Aceh pada tahun 2006-2007…

Sebelumnya tak terbayang olehku kalau suatu saat aku akan pergi ke luar jawa, meskipun aku punya keinginan untuk sekali-sekali menginjakan kaki di luar jawa.
pernah si sebelumnya beberapa kali keluar Jawa, yang pertama ke pulau Bali waktu Studytour SMA dulu, trus selanjutnya ke pulau Nusakambangan untuk praktikum beberapa kali di sana.

Waktu itu aku adalah seorang konsultan lepas di bidang Lingkungan Hidup, Meskipun kuliahku dulu bukan di jurusan itu. Sebelumnya aku kuliah di jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan di Uniersitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Namun karena ketertarikanku pada bidang lingkungan hidup maka aku mengikuti kursus Penyusun Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL A dan B) di Universitas Diponegoro Semarang. Setelah itu dimulailah petualanganku di bidang lingkungan hidup. Aku pernah beberapa kali bekerja di perusahaan konsultan lingkungan. Biasanya aku dibayar By Project. Hingga suatu hari, aku mendapat tawaran untuk bergabung dalam tim Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) Institut Pertanian Bogor dalam project : Bioremediation Servis for Sludge at Cluster IV Mudpit, ExxonMobil Indonesia Inc, Arun Field. Jelasnya, itu adalah suatu proyek pengolahan limbah pengeboran gas, berupa lumpur yang mengandung minyak (petrolium hidrokarbon), agar kandungan minyaknya berada di bawah standar baku mutu limbah. Tempatnya di Cluster IV, LNG Arun (Aceh) yang operatornya adalah ExxonMobil. Tanpa babibu, aku langsung terima tawaran itu untuk memenuhi hasratku menginjakan kaki di luar jawa.

Aku berangkat ke Aceh pada tanggal 13 Desember 206, beberapa hari setelah pilkada (gubernur, bupati dan walikota) secara serentak di Aceh. dari IPB berangkat pagi-pagi sekali, menuju Bandara Soekarno-Hatta, untuk menghindari jalanan macet. sampai di bandara sekitar jam 8 pagi dan langsung cek in. Rada kagok juga selama proses cek in sampai boarding, soalnya ini baru pertama kalinya aku naik pesawat. Aku naik pesawat Mandala Airline tujuan Polonia Medan yang berjenis Airbus 320 yang diembel-embeli jargon “salah satu pesawat ternyaman di dunia”, hehehe mana kutahu, soalnya belum coba yang lain c.

Mungkin ini juga dialami banyak orang dalam penerbangan pertamanya, yaitu gumunan, meskipun sok-sokan diem aja, biar ga kelihatan udiknya. Setelah pramugari2 seksi dengan bedak tebal-tebalnya, memperkenalkan pilot dan crew, serta menginformasikan sarana keselamatan dalam pesawat, dan juga mempraktikan penggunaannya sebagai salah satu hal wajib dalam penerbangan sipil, pesawat lalu terbang, wush… Kalau orang lain yang sudah biasa naik pesawat, pasti akan merasa bosan dan tidak lama setelah pesawat tackoff, pastinya langsung tidur nyenyak. Kalau aku? pastinya deh ga bisa tidur karena asyik melihat pemandangan di bawah, meskipun ga begitu jelas karena kita terbang di ketinggian 28.000 kaki (Kalau 1 kaki kira-kira 30cm, 28.000 kaki silahkan hitung sendiri dalam meter). Selain itu juga, kebanyakan kita terbang di atas laut, jadi yang kelihatan cuma birunya air saja, ditambah kalau ada awan di bawah kita, tambah ga kelihatan lagi dweh.

“Para penumpang yang terhormat, ini adalah suara pilot anda di kokpit pesawat, sebentar lagi kita akan sampai di Bandara Polonia Medan. Saat ini waktu menunjukan pukul 09.50, tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Medan. Cuaca di Bandara Polonia sedikit berawan dengan jarak pandang mencapai 2 km. Bagi anda yang sedang tidak berada di tempat duduk mohon untuk segera kembali ke tempat duduk, tegakkan sandaran kursi, pakai dan kencangkan sabuk keselamatan serta jangan melepasnya sampai lampu tanda sabuk keselamatan dimatikan”. beberapa saat kemudian terdengar lagi suara… “Flight attendand landing position….”

Sampai di bandara Polonia Medan, aku keluar dari pintu Arrival tapi langsung masuk lagi ke lewat pintu Departure, untuk cek in lagi, karena aku harus melanjutkan penerbangan ke Aceh dengan pesawat lain. Pada penerbangan sebelumnya aku harus cekin dengan tiket yang sudah dibelikan oleh PKSPL-IPB. kalau di penerbangan ini, aku cukup menunjukan selembar surat daftar penumpang dari ExxonMobil dan KTP, soalnya penerbangan ini gratis. Setelah proses cekin dsb aku langsung menuju ruang tunggu. Sekitar 45 menit menunggu ada panggilan penumpang pesawat ExxonMobil tujuan Lhoksukon untuk segera naik ke pesawat melalui pintu 1.

Pesawat dalam penerbangan kedua ini berbeda, kalau yang pertama tadi menggunakan tenaga jet dengan kapasitas penumpang mencapai ratusan orang, maka untuk pesawat ini menggunakan tenaga 2 baling-baling di kedua sayapnya dan kapasitas pesawat hanya untuk 20 penumpang plus 2 pilot. Peswat ini milik Travira Air, yang disewa oleh ExxonMobil selama beberapa tahun untuk mengangkut pegawainya Medan-Lhoksukon pulang pergi. Pesawat ini merknya Beachcraft type D2000 (kalau tidak salah). Meskipun cuma pesawat baling-baling, tapi aku merasa sangat nyaman, karena tempat duduk tidak terlalu sempit dan jarak antara tempat duduk depan dan belakang agak longgar, jadi kakiku yang panjang bisa selonjor santai. Beda dengan pesawat yang sebelumnya, sudah tempatnya sempit, dengan tempat duduk depannya juga mepet, rasanya seperti dalam bus ekonomi. Untung saja yang pertama tadi adalah first flight buat aku, jadi rasa itu tertutup oleh rasa gumunan, hehehehe.
45 menit terbang, juga aku tidak bisa tidur. Meskipun tak ada pramugari2 seksi, tapi tak apalah, yang penting bisa menikmati perjalanan. Masih dalam rangka gumunan aku menyaksikan pemandangan di bawah selama penerbangan.

Karena ketinggiannya tidak seberapa dibanding pesawat jet, maka pemandangan di bawah cukup jelas terlihat, gunung, hutan, lembah dan sungai masih cukup alami dalam pandanganku. 45 menit berselang akhirnya sampai juga aku di Bandara Lhoksukon, yang merupakan bandara milik perusahaan. Di sana aku sudah ditunggu seorang ibu yang juga pegawai ExxonMobil yang memberiku ID card sebagai cartu access aku keluar masuk lingkungan perusahaan. Tak lama berselang beberapa temanku yang beberapa hari sudah ada di sana juga datang menjemputku. Inilah saat pertamaku menginjakkan kaki di Bumi Rencong.

Bersambung…

Posted in: Umum