Subsidi BBM, Siapa yang Minum?

Posted on Desember 17, 2011

1


Saat ini, banyak sekali kegiatan manusia di muka bumi ini yang menggunakan energi dari Bahan Bakar Minyak (BBM). Bahkan hampir di setiap lini ada saja energi dari minyak yang digunakan. Sebut saja memasak, menggerakan mobil/motor, menggerakan mesin-mesin pabrik, menghidupkan listrik, mejalankan kapal, menerbangkan pesawat dan lain sebagainya.

Setelah terbuai selama puluhan tahun dengan melimpahnya sumberdaya minyak bumi, manusia mulai khawatir akan habis/hilangnya sumberdaya ini apabila dieksploitasi secara terus-menerus. Kekhawatiran ini dikarenakan manusia masih kesulitan menemukan sumber energi lain yang serupa manfaatnya maupun ekonomisnya dengan minyak bumi.

Di Indonesia, seruan pemerintah agar masyarakat menurunkan tingkat konsumsi energi BBM dengan segala cara, sepertinya kurang berhasil. Terbukti konsumsi BBM per tahunnya selalu meningkat. Padahal seruan ini sudah membawa-bawa berbagai macam alasan, diataranya adalah untuk mengurangi emisi/pencemaran udara, mengurangi efek global warming dan lain sebagainya, termasuk untuk menghemat subsidi BBM dari APBN yang terus meningkat.

Tapi upaya-upaya itu seperti tidak digubris oleh masyarakat kita. Lihat saja sekarang, berapa kali lipat jumlah sepeda motor dibandingkan 10 tahun yang lalu? berapa jumlah mobil dibandingkan dengan 10 tahun yang lalu? Kendaraan bermotor seperti sepeda motor dan mobil yang dulu merupakan barang mewah, sekarang seperti jajanan pasar saja yang siapa saja bisa membeli termasuk masyarakat golongan ekonomi lemah. Kemudahan dalam pembelian dengan adanya perusahaan-perusahaan pembiayaan merupakan salah satu faktor utama. Di samping itu, regulasi pemerintah dalam membatasi jumlah kendaraan bermotor juga seperti datang terlambat.

Peningkatan jumlah kendaraan bermotor sudah barang tentu meningkatkan konsumsi Bahan Bakar Minyak. Padahal sebagian besar produk BBM di Indonesia yang beredar di pasaran (SPBU) adalah BBM bersubsidi. Apabila tidak dicarikan solusi, Negara pasti akan koleps karena devisit anggaran gara-gara APBN banyak dipakai untuk subsidi BBM, yang entah siapa yang minum. Sebenarnya, apabila anggaran subsidi BBM tersebut dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan lain, pasti akan lebih bermanfaat, asal tidak dikorupsi lho…

Soal siapa yang meminum subsidi BBM. Anda semua pasti tahu, banyak mobil di jalanan kita yang kadang isinya hanya 1 orang. Tentu hal ini adalah merupakan sebuah pemborosan BBM dan juga subsidi BBM. Coba kalau dia naik sepeda motor saja, berapa yang bisa dihemat?

Kita ambil contoh studi kasus. Harga BBM subsidi (premium) adalah Rp. 4.500,-  sedangkan harga BBM non subsidi (pertamax) adalah Rp. 9.500,-. Dengan demikian setiap orang yang membeli premium, per liternya dia meminum subsidi dari pemerintah sebesar Rp. 5.000,-. Sampai di sini jelas? Pasti donk.

Aku sendiri setiap hari menempuh perjalanan 120 km untuk bekerja, menggunakan sepeda motor. Anggap saja konsumsi BBM sepeda motorku 3 liter, dan jujur saja aku masih beli BBM jenis premium, berarti aku minum subsidi pemerintah Rp. 15.000,- per hari. Jelas anak-anak? Jelas pak guru…

Ini yang seru, ada atasanku yang menempuh jarak perjalanan yang sama denganku, tapi dia mengendarai mobil mewah di atas 2.000 cc sendirian (nyetir sendiri). Konsumsi BBMnya per hari sekitar 10 liter dan tanpa malu-malu membeli BBM jenis premium. Berarti dia telah meminum subsidi BBM dari pemerintah sebesar Rp. 50.000,- per hari. Bayangkan selama sebulan, dia menghabiskan subsidi BBM Rp 1.500.000,-. Nilai sebesar itu sudah cukup untuk menggaji pegawai negeri golongan IA selama sebulan.

Oleh karena itu, sebaiknya kebijakan subsidi BBM perlu dinjau kembali, karena yang menikmati subsidi itu sesungguhnya adalah orang-orang yang mengendarai mobil. Lihatlah para pengendara sepeda motor (bukan motor gede lho), mereka minum sedikit subsidi BBM, lihatlah orang-orang yang naik angkutan umum, mereka lebih sedikit lagi dalam menggunakan subsidi BBM. Apalagi orang pelosok yang kemana-mana jalan, dia sama sekali tidak pernah merasakan enaknya minum subsidi BBM. Apabila kita kaitkan dengan rasa eadilan, pasti itu sangatlah jauh dari yang namanya adil. Yang kaya dapat subsidi banyak dari pemerintah, yang miskin hanya dapat sedikit, bahkan tidak sama sekali. Coba apabila subsidi BBM dialihkan untuk anggaran pendidikan, tentu tidak ada cerita anak putus sekolah atau sekolahan ambruk. Apabila dialihkan ke kesehatan, tentu tidak cerita pasien miskin yang ditolak rumah sakit. Apabila dialihkan ke pembukaan lapangan kerja, tentu tidak ada cerita orang pengangguran.

Pasti ada yang protes: kalau subsidi BBM dicabut, nanti akan memicu inflasi pak guru… Ya benar sekali, sebenarnya ga masalah dengan inflasi, asalkan negara benar-benar menjamin kebutuhan masyarakat seperti pendidikan, kesehatan dan pekerjaan. Inflasi ga ada masalah kalau ada yang menanggung. Tidak mengapa harga naik, yang penting duitnya tambah banyak, toh sudah pada kerja dengan penghasilan yang harus disesuaikan dengan standar hidup minimal.

Kalau mau tetep ngeyel, okelah kita cari jalan tengah. Misalnya begini, semua mobil terutama yang silindernya lebih dari 1.250 cc wajib beli pertamax, sedangkan angkutan umum seperti angkot diijinkan beli premium, nah lho berarti tidak ada alasan untuk menaikan tarif angkot kan? Berarti kebutuhan pokok juga jangan ikut naik.

Bagaimana dengan kendaraan besar (truck/bus)? Kendaraan besar seperti itu kan pakai solar, nah harga solarnya ga usah dinaikan, toh sekarang juga sudah ada biosolar. Jadi kendaraan angkutan antar kota (bis) dan pengangkut barang (truck) tidak perlu manaikan anggaran operasional, jadi tidak ada harga barang/tarif bus yang dinaikkan. Trus untuk sepeda motor, khusus bagi sepeda motor dengan isi silinder di atas 150cc wajib menggunakan pertamax, soalnya itu sudah masuk motor mewah.

Peraturan itu harus berlaku dan diberlakukan secara ketat dalam pengawasan intensif, kalau tidak, kebijakan hanyalah kebijakan tanpa pelaksanaan. Tentunya juga disertai aturan main yang jelas dan konsekwensi yang setimpal apabila ada pelanggaran. Contohnya angkot hanya boleh membeli premium sekian liter per hari, agar tidak dijadikan sebagai calo premium. Pedagang bensin eceran juga harus beli dan jualan pertamax. Dan sebagainya lah, banyak orang pinter di pusat yang lebih bisa memikirkan hal-hal seperti itu.

Aparat pemerintah juga sebaiknya memberi contoh yang baik kepada masyarakat, untuk kendaraan plat merah, sebaiknya ya beli pertamax donk, jangan cuma teriak-teriak “BBM bersubsidi hanya untuk golongan kurang mampu”. Gubrak…..

Posted in: Lingkungan Hidup