51 Tahun Gerakan Pramuka

Posted on Agustus 14, 2012

0


Hari ini, 51 tahun yang  lalu, berbagai gerakan kepanduan di seluruh Indonesia menyatakan bergabung dalam suatu wadah kepanduan nasional yang bernama Gerakan Pramuka.

Gerakan Pramuka menjelma menjadi organisasi yang besar, dengan memiliki perwakilan di (mungkin) semua Provinsi, Kabupaten/Kota dan Kecamatan di Seluruh Indonesia. Anggotanya, untuk golongan muda saja (usia 6-26 tahun), mencakup anak-anak SD, SLTP, SLTA dan Mahasiswa serta anggota lain yang tidak sekolah. Mereka diwadahi dalam kesatuan Gugus Depan di tiap-tiap sekolah/universitas, maupun wilayah teritorial.Hal ini menjadikan Gerakan Pramuka memiliki anggota yang buanyak sekali, berapa kira-kira?

Pada tahun 2011, Gerakan Pramuka memiliki 17.103.793 anggota, sehingga menjadikannya sebagai gerakan kepanduan dengan jumlah anggota terbanyak sedunia.

Gerakan Pramuka sebagai penyelenggara pendidikan kepanduan Indonesia, yang merupakan bagian dari pendidikan nasional, bertujuan untuk membina kaum muda dalam mencapai sepenuhnya potensi-potensi spiritual, sosial, intelektual dan fisiknya, agara mereka bisa:

  • Membentuk kepribadian dan akhlak mulia kaum muda
  • Menanamkan semangat kebangsaan, cinta tanah air dan bela negara bagi kaum muda
  • Meningkatkan keterampilan kaum muda sehingga siap menjadi anggota masyarakat yang bermanfaat, patriot dan pejuang yang tangguh, serta menjadi calon pemimpin bangsa yang handal pada masa depan.

Gerakan Pramuka memiliki kode etik untuk para anggotanya, yaitu: Dwi Satya dan dwi darma yang merupakan janji dan ketentuan moral bagi pramuka tingkatan siaga, serta tri satya dan dasa darma yang merupakan janji dan ketentuan moral bagi pramuka tingkatan penggalang, penegak, pandega dan anggota dewasa.

Dari segi konsep organisasi, bagus. Dari segi pelaksanaan, sepertinya banyak yang harus dibenahi, terutama di tingkat Gugus Depan. Kenapa? Karena Gugus Depan adalah kesatuan yang langsung mewadahi dan menangani kegiatan peserta didik (anggota muda). Banyak sekali Gugus Depan yang melenceng dari konsep Gerakan Pramuka, ada juga Gugus Depan yang non aktif atau tidak ada kegiatan sama sekali.

Banyak pembina di tingkat Gugus Depan yang sama sekali tidak mengetahui konsep pendidikan gerakan pramuka, sehingga mereka bekerja asal-asalan. Akibatnya pendidikan Gerakan Pramuka di Gugus Depan menjadi monoton, membosankan dll. Bisa jadi pembina tersebut belum pernah mengikuti kursus pembina pramuka mahir tingkat dasar/lanjutan, sehingga dia “asal jalan” karena kepala sekolah terlanjur memberi perintah.

Karena kegiatannya yang monoton dan membosankan, menyebabkan peserta didik banyak yang kabur dan lebih memilih aktivitas lain yang lebih menyenangkan. Banyak komentar yang bilang bahwa pramuka bisanya cuma tepuk tangan, nyanyi-nyanyi dll.

Hal tersebut tidak akan terjadi kalau saja pembina di tingkat Gugus Depan bisa memahami konsep pendidikan Gerakan Pramuka dan juga mampu mengaplikasikannya kepada peserta didik.

Bayangkan saja kalau pendidikan Gerakan Pramuka di tingkat Gugus Depan sukses, pastilah akan terbentuk generasi muda yang berkualitas, tangguh dan bermoral. Generasi seperti itulah yang diharapkan mampu membawa Indonesia menjadi lebih baik, ketika mereka menggantikan generasi pendahulunya.

Dengan adanya generasi yang berkualitas dan bermoral, tentu tidak akan ada cerita korupsi merajalela seperti sekarang ini. Lho kok jadi ngebahas korupsi? ya iya lah… Coba kita pikirkan, mereka-mereka yang sekarang aktif sebagai koruptor, tentu dulunya pernah sekolah, kalau pernah sekolah, tentu pernah jadi pramuka (meskipun cuma ikut-ikutan). Sebagai pramuka, pasti pernah tahu tentang tri satya dan dasa darma (meskipun cuma baca). Kalau pendidikan pramuka di Gugus Depan berjalan dengan baik, pastilah mereka akan memahami, meresapi dan mengamalkan tri satya dan dasa darma dengan sebaik-baiknya, dan tidak mudah terbawa arus untuk ikut-ikutan korupsi.

Ditandai: ,
Posted in: Umum